Mengapa Ada Organisasi (2)

Mengapa Ada Organisasi (2)

Edisi 07, 2 Maret 2020

Setiap pihak kemudian perlu menenggang diri dan menyeimbangkan kepentingan dirinya dengan kepentingan organisasi.  Sebab bila tidak ada pihak yang membela kepentingan organisasi maka organisasi akan mati.  Saya menyebutnya sebagai ‘tidak cukupnya cinta bagi organisasi’…hehe..

                Organisasi mempunyai kepentingan untuk tumbuh dalam jangka panjang dan dalam prosesnya tetap memenuhi kepentingan banyak pihak.

                Salah satu tekanan yang paling terasa di dalam organisasi adalah tekanan untuk mencapai target tertentu, yang umumnya tentu positif, tetapi pada satu titik dapat mengorbankan kepentingan organisasi jangka panjang.  Misalnya ketika organisasi memilik keuntungan yang besar, maka yang dinaikan adalah bonus, deviden dan fasilitas karyawan, tidak ada dana untuk investasi bagi kepentingan jangka panjang, bisa terkait dengan R&D sampai dengan terkait konsultansi pembenahan organisasi.              Sudah menjadi hal umum ketika direksi diberikan target oleh pemegang saham kemudian direksi menekan manajemen maka semua orang seperti stres mengejar target tanpa menghargai proses yang dibutuhkan untuk tumbuhnya kematangan koordinasi, sistem dan budaya.  Ketika sistem organisasi belum siap untuk target yang tinggi, maka situasi yang terjadi ibarat bibit apel yang baru ditanam bulan lalu, tetapi kita sudah berharap hari ini ia sudah menghasilkan apel.  Tidak ada pemahaman dan penghargaan terhadap proses.

                Staf memiliki banyak bos dan bos tersebut tanpa memperhatikan struktur organisasi dan mekanisme koordinasi yang ada bisa memerintah dan menekan staf tersebut seenaknya.  Pada saat itu power sudah lebih digunakan daripada otoritas.

                Ketika power bermain, maka bos A membentuk klik dengan beberapa bos lain untuk memastikan keberlangsungan ‘kekuasaan’-nya, lalu mereka yang tidak sekelompok akan disingikirkan dan penilaian kinerja ataupun promosi lebih tentukan oleh siapa orang tersebut, kelompok saya atau bukan, lebih ditentukan oleh suka atau tidak suka dengan orang tersebut.  Pada saat itupun, sistem dibuat samar sehingga staf bisa diperlakukan sebagai ‘ajudan’ semata.

                Akhirnya para manajer tidak berani mengambil keputusan karena menunggu ‘arah angin di atas’,  dan hanya sibuk bermain politik dan bukan mencapai kinerja organisasi.  Inilah yang kemudian disebut sebagai office politic, dimana yang maju adalah para politisi bukan mereka yang bisa menunjukan hasil kerja yang baik (performer).

                Hanya strong leader yang aware terhadap mekanisme bekerjanya organisasi akan bisa mengembalikan profesionalisme ke dalam organisasi yang diperlukan agar organisasi kembali pada track-nya.

Leave a Reply

Close Menu